Sabtu, 14 Februari 2009

KPK

Dalam beberapa tahun ini pengadilan khusus korupsi hasil kerja KPK mengalami peningkatan aktivitas yang luar biasa, tidak peduli siapa saja yang diperiksa KPK dijamin masuk bui, mengerikan bagi oknum yang bersangkutan sekaligus menyenangkan masyarakat, sampai-sampai besannya orang nomor satu di Indonesia pun dijebloskan ke penjara.

Dari sekian ribu komentar masyarakat, muncul sikap pesimistis dari aparatur (PNS) yang selama ini mengelola keuangan negara. Ada rasa ketakutan apabila mengelola anggaran di atas 1 milyar, karena konon kabarnya KPK hanya mau meriksa apabila anggaran diatas 1 milyar.

Beribu saran disampaikan, antara lain “kamu jangan takut mengelola anggaran itu, kalau kamu benar ga mungkin kamu di periksa KPK, jangan korupsi”, begitu katanya.

Hanya muncul juga pertanyaan, berapa sih gaji KPK, denger-denger diatas 25 jt sebulan, wahhh luar biasa dong apabila dibandingkan dengan eselon II di Kabupaten Kota (kepala dinas/badan)yang menerima penghasilan sekitar 7 juta an (kalau mereka jujur lho). Kok jauh banget yaaaa.

Nampaknya harus pula diperhitungkan juga dalam bentuk rasionalisasi penghasilan aparat, karena jangan-jangan hebatnya KPK karena penghasilannya sudah baik, jadi kerjaaaaa aja ga ngingetin aktivitas atau objek lain tuk nambah penghasilan, tar gajian semuanya bisa diatasi. Sementara aparat lain (PNS) sibuk dengan ngobjek baik diluar lingkungan kerjanya atau ngotak ngatik anggaran negara alias korupsi, karena menurut perhitungannya, gaji hanya bisa sampai tanggal 5 setiap bulannya, sementara satu bulan itu jumlahnya 30 sampai dengan 31 hari, jadi 25 hari lagi gimana???

Mana biaya pendidikan semakin naik, kebutuhan sehari-haripun ga ada yang turun.

Gimana kalau untuk uji coba, aparat KPK gantian penghasilannya dengan aparat PNS sesuai dengan golongannya, mudah-mudahan saja ada solusinya hehehehe

macet

Dibandingkan dengan kota jakarta sih bandung ga ad apa-apanya kalau urusan macet, hanya beberapa titik daerah macet, selebihnya hanya kondisional, biasanya kalau peak hour atau week end. Namun demikian nampaknya perlu pemikiran bersama untuk mengurangi macet mengingat efek dari macet itu ternyata luar biasa buruknya, baik pada syaraf otak kecil, tempramental seseorang, psikologis baik pengemudi maupun pejalan serta menjadikan udara yang buruk untuk dihirup manusia, sementara dari segi lainnya yaitu pemborosan BBM, spare part kendaraan dll.
Beberapa penyebab macet yang saya perhatikan yaitu jalan yang menyempit akibat PKL, parkir kendaraan yang sembarangan, jalan berlubang, komunitas sepeda motor yang luar biasa banyaknya serta sikap mengendara yang tidak tertib yang menyebabkan kendaraan bermotor di wilayah tersebut harus mengurangi kecepatannya sampai dengan berhenti sama sekali.
Sebagian mungkin merasa biasa dengan kemacetan tersebut karena sehari-hari mereka melewati daerah macet, sehingga lucunya akan heran kalau jalanan tidak macet. Kebiasaan itu harus segera dihilangkan, demi lingkungan di kota bandung menjadi bersih, sekedar info saja, punten

motor jurig

Satu ketika...ada beberapa anak muda yang asyik berkendaraan motor skutik, nguebut nian bawa motornya, mana peduli sama lingkungan sekitarnya, helm??? mana mau pake (dia pikir kepalanya lebih keras ama bemper) hehehe. Jalan raya yang segitu lebarnyapun tidak mereka gunakan dengan benar, asyik ngambil jalan orang lain. Angkot, mobil sedang sampai bis guede cuman bisa IR (bukan insinyur tapi Injak Rem) sambil kukulutus, dah jelas yang mau nyebrang mah rerengkogan (ga pede nyebrang, Red) karena takut. Saya pun mengeluarkan bahasa kebun binatang karena mobil yang saya bawa hampir tersenggol ama mereka.
Terpikir olehku, seperti itukan teknologi diciptakan, kendaraan semakin kuenceng, murah didapat karena cukup dengan 700 rebu langsung bisa pake, tapi bayar kredit yang 3 tahunan. Mudah didapat karena sudah mereka sebar ahli marketing, cakep-cakep n seksi plus bahenol (kadang bingung...ini teh mau jual motor atau jual body hehehe maaf) yang akhirnya ga niat beli motor juga kalau ga kuat iminnya sih dijamin bakal akad kredit dengan harapan siapa tau punya tunggangan lain (maaf...anak kecil jangan baca yang ini yaaaa).
Saya sih tidak begitu peduli ama upaya marketing mereka, hak mereka itu mah, rek campur dosa oge sabodo, tapiiiiiii gimana nasib generasi pengganti kami yang sekarang asyik dengan kendaraannya, kayanya samapai sekarang ga ada tuh aplikasi dari regulasi berkendaraan yang optimal dilaksanakan, paling ge tertib lalu lintas rutin meriksa SIM dan STNK serta kelengkapan lainnya. Gimana ya bagusnya..??? sok atuh marikir tuk memberikan solusi kepada pemerintah baik dinas perhubungan atau kepolisian atau instansi lainnya, Jigana pemerintahmah dah mulai poekeun, apalagi sebentar lagi pilkada legeslatif ama presiden, poekkkkkk alias au ah gelap

Minggu, 08 Februari 2009

Pe Ka El

Ari pas balik ngaji atanapi ngupingkeun pangaosan ti ustadz asa sok ketir ningali perjuangan urang nu aya di bandung (sanes urang bandung nyaaa, wayahna....) satekah polah mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya, terutama para pedagang kaki lima alias PKL. Tapi pas kebetulan lagi ga punya uang terus sedang tergesa-gesa karena ditunggu rekan bisnis, suka timbul kakeuheul kalau jalan yang dilintasi muacet akibat PKL tumpah ke jalan raya, karena trotoar sudah tidak mampu lagi menampung pedagang PKL dan pembelinya. Kadang saya berfikir apakah mereka sadar apa kurang sadar bahwa mereka berusaha menghidupi keluarganya tapi cara mereka malah menutupi masyarakat lain untuk menghidupi keluarganya. Satu contoh mungkin bisa batal satu transaksi karena ga bisa tatap muka akibat macet, walaupun sudah di SMS hehehe. Belum lagi mereka berdagang dengan cara menghalangi atau menutupi pedagang lainnya yang telah dahulu berusaha dengan modal yang tidak sedikit alian besar sebab harus beli atau sewa toko. Ari pemerintah nampaknya punya berbagai program tapi aparat ya aparat...PKL tetep dagang. Nampaknya perlu ketegasan yang paripurna atau sedikit kurang berperikemanusiaan hehehe, bisa nyonto jakarta ama surabaya. Sosialisasikan dengan benar, beri waktu dan bongkar. Tapi jangan lupa anggarkan juga untuk membuat tempat yang representatif biar mereka bisa berdagang seperti yang lainnya dengan catatan eks PKL ge harus siap bertarung lagi, jangan pas untung diem tapi pas rugi dikit langsung demo. Terakhir, nampaknya perlu kajian ulang dalam pembangunan mall, bisakan diperuntukan untuk para PKL yang digusur???? Yuuuu berfikir, kasian pemerintah sendirian aja mikiran PKL hehehe

Angkoooooot.....angkooottttt, naha ari maneh

Teringat sewaktu supir angkot sibuk dengan demo sehingga ogah cari penumpang, mungkin salah satu pembelajaran jadi anggota legeslatif nantinya ya?????
Dengan bangganya mereka menelantarkan penumpang yang sebetulnya mereka sehari hari hidup dari para penumpang. Dengan gagahnya mereka menurunkan penumpang yang sudah naik karena demi solidaritas, padahal mungkin saja supir angkot yang narik penumpang pas orang lain pada demo adalah supir yang bijaksana.....atau mungkin bijaksini....daripada anak istri ga makan kan...
Dibalik semua kasedih dan kakeuheul akibat ulah oknum supir angkot dan temen-temennya, muncul perasaan nikmat, nyaman, damai dll (pokokna jarang terjadi we lah) sebab jalan jadi lenglang, debu berkurang, mobil amperna jadi normal da teu gerang gerung nu matak jadi panas mesin, kaki ga terlalu pegel da ga sibuk nginjak kopling dan rem, AC mobil di pareuman da asa teu hareudang teuing sabab mobil ngageuleuyeung, dan yang paling penting adalah tensi darah stabil (walaupun tidak ditensi tapi terasa lhooo) dengan kata lain meni nyuamaaaaaan pisan, asa bener hirup di bandung teh, nuhuun angkot.
Jadi setelah di pikir-pikir baik melalui kajian akedemisi maupun empirik...hehehe... timbul pemikiran atau teori bahwa sudah waktunya angkot di kurangi untuk selanjutnya dipertimbangkan ditiadakan, sudah waktunya masyarakat bandung di manjakan dalam transportasi umum (punten abdi nurutan anggota LSM) sosialisasikan kepada supir angkot bahwa satu waktu masyarakat tidak akan mau naik angkot lagi, dan itu harus sadar, karena masyarakat kan boleh memilih. Masalah nasib supir angkot, yu urang babarengan mikiran, percuma aya unpad, itb, ipb dll ari teu bisa mikirmah, keur mah nyieun jarum kecos oge can mampu alumni urang teh hehehe, punten nyaaaa