Minggu, 08 Februari 2009
Pe Ka El
Ari pas balik ngaji atanapi ngupingkeun pangaosan ti ustadz asa sok ketir ningali perjuangan urang nu aya di bandung (sanes urang bandung nyaaa, wayahna....) satekah polah mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya, terutama para pedagang kaki lima alias PKL. Tapi pas kebetulan lagi ga punya uang terus sedang tergesa-gesa karena ditunggu rekan bisnis, suka timbul kakeuheul kalau jalan yang dilintasi muacet akibat PKL tumpah ke jalan raya, karena trotoar sudah tidak mampu lagi menampung pedagang PKL dan pembelinya. Kadang saya berfikir apakah mereka sadar apa kurang sadar bahwa mereka berusaha menghidupi keluarganya tapi cara mereka malah menutupi masyarakat lain untuk menghidupi keluarganya. Satu contoh mungkin bisa batal satu transaksi karena ga bisa tatap muka akibat macet, walaupun sudah di SMS hehehe. Belum lagi mereka berdagang dengan cara menghalangi atau menutupi pedagang lainnya yang telah dahulu berusaha dengan modal yang tidak sedikit alian besar sebab harus beli atau sewa toko. Ari pemerintah nampaknya punya berbagai program tapi aparat ya aparat...PKL tetep dagang. Nampaknya perlu ketegasan yang paripurna atau sedikit kurang berperikemanusiaan hehehe, bisa nyonto jakarta ama surabaya. Sosialisasikan dengan benar, beri waktu dan bongkar. Tapi jangan lupa anggarkan juga untuk membuat tempat yang representatif biar mereka bisa berdagang seperti yang lainnya dengan catatan eks PKL ge harus siap bertarung lagi, jangan pas untung diem tapi pas rugi dikit langsung demo. Terakhir, nampaknya perlu kajian ulang dalam pembangunan mall, bisakan diperuntukan untuk para PKL yang digusur???? Yuuuu berfikir, kasian pemerintah sendirian aja mikiran PKL hehehe
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar