Teringat sewaktu supir angkot sibuk dengan demo sehingga ogah cari penumpang, mungkin salah satu pembelajaran jadi anggota legeslatif nantinya ya?????
Dengan bangganya mereka menelantarkan penumpang yang sebetulnya mereka sehari hari hidup dari para penumpang. Dengan gagahnya mereka menurunkan penumpang yang sudah naik karena demi solidaritas, padahal mungkin saja supir angkot yang narik penumpang pas orang lain pada demo adalah supir yang bijaksana.....atau mungkin bijaksini....daripada anak istri ga makan kan...
Dibalik semua kasedih dan kakeuheul akibat ulah oknum supir angkot dan temen-temennya, muncul perasaan nikmat, nyaman, damai dll (pokokna jarang terjadi we lah) sebab jalan jadi lenglang, debu berkurang, mobil amperna jadi normal da teu gerang gerung nu matak jadi panas mesin, kaki ga terlalu pegel da ga sibuk nginjak kopling dan rem, AC mobil di pareuman da asa teu hareudang teuing sabab mobil ngageuleuyeung, dan yang paling penting adalah tensi darah stabil (walaupun tidak ditensi tapi terasa lhooo) dengan kata lain meni nyuamaaaaaan pisan, asa bener hirup di bandung teh, nuhuun angkot.
Jadi setelah di pikir-pikir baik melalui kajian akedemisi maupun empirik...hehehe... timbul pemikiran atau teori bahwa sudah waktunya angkot di kurangi untuk selanjutnya dipertimbangkan ditiadakan, sudah waktunya masyarakat bandung di manjakan dalam transportasi umum (punten abdi nurutan anggota LSM) sosialisasikan kepada supir angkot bahwa satu waktu masyarakat tidak akan mau naik angkot lagi, dan itu harus sadar, karena masyarakat kan boleh memilih. Masalah nasib supir angkot, yu urang babarengan mikiran, percuma aya unpad, itb, ipb dll ari teu bisa mikirmah, keur mah nyieun jarum kecos oge can mampu alumni urang teh hehehe, punten nyaaaa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar